Ikuti Kami
Kamis, 5 November 2026 ⚡ Versi Web
Konten dari Pengguna

Memahami Diri dan Bertumbuh dalam Menghadapi Kehidupan

Kontributor: Zabrina Nindy Hasdian
Rabu, 4 November 2026 | 09:22 WIB
Facebook
X
WhatsApp
Lainnya

Dalam kehidupan modern, keberhasilan sering kali dikaitkan dengan kemampuan seseorang dalam mencapai tujuan, menjalankan tanggung jawab, dan mengatasi berbagai permasalahan. Pandangan tersebut secara tidak langsung menimbulkan anggapan bahwa setiap individu harus mampu mengatur dan mengendalikan kehidupannya dengan baik. Namun, tidak semua hal berjalan sesuai rencana. Ada kalanya usaha yang telah dilakukan belum membuahkan hasil seperti yang diharapkan, sementara perubahan keadaan justru datang tanpa pernah diperkirakan sebelumnya. Cara individu menyikapi pengalaman tersebut menjadi salah satu hal yang dapat direnungkan melalui buku Nanti Juga Sembuh Sendiri karya Bagas Ali Prasetyo atau Helo Bagas. Menurut saya, kemampuan seseorang dalam melewati masa sulit tidak cukup dinilai hanya dari seberapa cepat ia mampu bangkit. Hal yang tidak kalah penting ialah bagaimana ia memahami dan memperlakukan dirinya sendiri selama menjalani proses tersebut. Pemikiran ini sejalan dengan konsep self-compassion yang dikemukakan Neff (2003), yaitu kemampuan bersikap baik terhadap diri sendiri ketika mengalami penderitaan, kegagalan, maupun kekurangan. Konsep ini mengingatkan bahwa seseorang tidak harus terus-menerus mengkritik atau menyalahkan dirinya ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Sebaliknya, pengalaman tersebut dapat menjadi kesempatan untuk mengenali keterbatasan sekaligus memahami hal-hal yang masih dapat dikembangkan. Dengan demikian, menghargai diri sendiri bukan berarti mengabaikan atau membenarkan kesalahan, melainkan memberikan kesempatan untuk belajar dan memperbaikinya tanpa kehilangan penghargaan terhadap diri sendiri.

Kemampuan mengelola emosi menjadi hal yang perlu diperhatikan. Ketika hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan usaha yang telah dilakukan, seseorang tentu dapat merasakan kekecewaan. Misalnya, seorang mahasiswa yang telah mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh untuk mengikuti seleksi program tertentu ternyata belum berhasil mendapatkan kesempatan yang selama ini diharapkan. Situasi tersebut mungkin membuatnya mempertanyakan kemampuan dan keputusan yang sebelumnya telah diambil. Namun, terus-menerus memikirkan kegagalan tanpa berusaha mengevaluasi penyebabnya justru dapat membuat seseorang semakin sulit menentukan langkah selanjutnya. Menurut saya, emosi yang muncul saat menghadapi keadaan sulit tidak harus segera dihilangkan. Rasa kecewa dapat menunjukkan bahwa sesuatu memiliki arti penting bagi seseorang, sedangkan rasa takut mungkin muncul karena adanya kekhawatiran terhadap keadaan yang belum pasti. Gross (1998) menjelaskan bahwa regulasi emosi merupakan proses ketika individu memengaruhi emosi yang dimiliki, kapan emosi tersebut muncul, serta bagaimana emosi dialami dan diekspresikan. Berdasarkan pemahaman tersebut, mengelola emosi bukan berarti memaksa diri untuk selalu berpikir positif. Individu perlu belajar mengenali perasaannya, memahami penyebabnya, dan menentukan respons yang tepat terhadap situasi yang dihadapi. Sebagai contoh, mahasiswa yang mengalami kegagalan dapat terlebih dahulu memberi waktu bagi dirinya untuk memahami kekecewaan sebelum mengevaluasi persiapan dan mempertimbangkan kesempatan berikutnya. Dengan begitu, kegagalan dapat menjadi bahan pembelajaran tanpa dijadikan ukuran untuk menilai seluruh kemampuan diri. Oleh karena itu, memahami emosi merupakan bagian dari pengembangan diri, bukan sesuatu yang menghalangi seseorang untuk maju.

Selain kemampuan memahami diri sendiri, lingkungan sosial juga memiliki peran dalam membantu individu menghadapi tekanan kehidupan. Setiap individu memang memiliki tanggung jawab terhadap keputusan dan tindakan yang diambil, tetapi hal tersebut tidak berarti seluruh persoalan harus diselesaikan tanpa bantuan siapa pun. Melalui Social Support Buffering Hypothesis , Cohen dan Wills (1985) menjelaskan bahwa dukungan sosial dapat mengurangi dampak negatif tekanan yang dialami individu. Dukungan tersebut dapat berasal dari keluarga, teman, maupun orang lain yang dianggap dapat dipercaya. Sebagai contoh, mahasiswa yang kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan perkuliahan mungkin membutuhkan teman untuk berbagi cerita dan membicarakan keadaan yang sedang dihadapinya. Kehadiran seseorang yang bersedia mendengarkan dapat memberikan sudut pandang baru sekaligus membuat individu merasa bahwa dirinya tidak menghadapi persoalan tersebut sendirian. Menurut saya, kemandirian perlu dipahami secara lebih luas karena sering kali dikaitkan dengan kemampuan melakukan segala sesuatu tanpa bantuan orang lain. Padahal, mengetahui batas kemampuan diri, menerima bahwa dirinya memiliki keterbatasan, dan menyadari kapan membutuhkan pertolongan juga merupakan bagian dari kemandirian. Bantuan dari lingkungan sekitar tidak selalu harus berupa solusi atas permasalahan yang sedang dihadapi. Kesediaan untuk mendengarkan tanpa menghakimi atau memberi kesempatan kepada seseorang untuk menyampaikan pikirannya juga dapat menjadi bentuk kepedulian yang berarti. Apabila persoalan yang dialami mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari bantuan profesional juga dapat menjadi langkah yang tepat. Meski begitu, dukungan lingkungan tetap perlu disertai kemauan individu untuk memperbaiki keadaan. Dengan kata lain, bantuan orang lain dapat menjadi sumber kekuatan, sedangkan usaha untuk memperbaiki keadaan tetap membutuhkan keterlibatan diri sendiri.

Dari berbagai pemikiran tersebut, saya melihat bahwa perkembangan diri tidak hanya dinilai melalui pencapaian, tetapi juga dari cara seseorang menyikapi pengalaman yang tidak sesuai harapan. Buku Nanti Juga Sembuh Sendiri menggambarkan bahwa memahami dan menerima diri merupakan bagian penting dalam menghadapi kehidupan. Meskipun demikian, pesan tentang pemulihan diri perlu dipahami secara bijak. Menunggu keadaan membaik tanpa berusaha memahami penyebab masalah belum tentu membawa perubahan. Sebaliknya, memaksakan diri untuk segera pulih dapat membuat seseorang mengabaikan kebutuhannya sendiri. Menurut saya, menghadapi keadaan sulit membutuhkan keseimbangan antara menerima kenyataan, memahami emosi, mengambil pelajaran dari pengalaman, dan mencari dukungan ketika diperlukan. Memang tidak semua hal dalam kehidupan dapat dikendalikan oleh individu, tetapi setiap orang tetap mempunyai kesempatan untuk menentukan tindakan terhadap keadaan yang masih dapat diperbaiki. Karena itu, kekuatan diri sebaiknya tidak hanya diukur dari kemampuan menyembunyikan kesulitan atau menyelesaikan masalah dengan cepat. Mengakui kekurangan, belajar dari kegagalan, serta bersedia menerima bantuan juga merupakan bagian dari kekuatan tersebut. Pada akhirnya, menjalani kehidupan bukan sekadar mempertahankan pencapaian, melainkan belajar menghadapi berbagai pengalaman sebagai bagian dari proses untuk terus berkembang.

 

Tentang Penulis

Zabrina Nindy Hasdian mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang yang memiliki ketertarikan pada bidang psikologi dan pengembangan diri.

Kontributor: Zabrina Nindy Hasdian
Rabu, 4 November 2026 | 09:22 WIB
Catatan Redaksi

Tulisan ini merupakan opini pengguna. Pandangan yang disampaikan menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan Redaksi Distrik Banten News. Status Kontributor tidak menunjukkan keanggotaan Redaksi maupun kewenangan untuk mewakili Distrik Banten News.

Artikel Selanjutnya

Generasi Muda Terlena Media Sosial, Kebiasaan Membaca Buku Jadi Sorotan

Mode AMP — versi ringan & cepat
Versi Lengkap

Terkini

Kebiasaan Kecil sebagai Awal Perubahan Hidup Mahasiswa

Rabu, 4 November 2026 | 17:03 WIB

Belajar Bertahan di Tengah Rasa Lelah

Rabu, 4 November 2026 | 11:00 WIB

Memahami Diri dan Bertumbuh dalam Menghadapi Kehidupan

Rabu, 4 November 2026 | 09:22 WIB
↑ Kembali ke atas
Memahami Diri dan Bertumbuh dalam Menghadapi Kehidupan

Bagikan artikel ini melalui