Ikuti Kami
Rabu, 4 November 2026 ⚡ Versi Web
Konten dari Pengguna

22 Ribu Hektare Terbakar, Pakar: El Niño Bukan Penyebab Utama Karhutla 2026

Kontributor: Ghefira Lia
Sabtu, 31 Oktober 2026 | 18:09 WIB
Facebook
X
WhatsApp
Lainnya

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi persoalan serius di Indonesia pada 2026. Setiap musim kemarau, masyarakat di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan harus menghadapi kabut asap yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan manusia, tetapi juga mengancam keberlangsungan ekosistem dan kehidupan satwa liar. Meluasnya kebakaran tahun ini menunjukkan bahwa karhutla bukan sekadar bencana musiman, melainkan persoalan lingkungan yang membutuhkan penanganan secara menyeluruh.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 22 Oktober 2026, sekitar 22.595 hektare lahan masih berada dalam penanganan akibat kebakaran. Dari jumlah tersebut, sekitar 18.973 hektare berada di wilayah Kalimantan. Kalimantan Tengah menjadi salah satu daerah dengan dampak terbesar, yakni mencapai sekitar 16.097 hektare. Kondisi tersebut mendorong pemerintah meningkatkan upaya pemadaman, termasuk mengerahkan bantuan udara untuk menangani kebakaran yang juga mulai meluas ke sejumlah wilayah di Pulau Jawa.

Salah satu faktor yang memperburuk kondisi kebakaran tahun ini adalah fenomena El Niño. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa anomali suhu permukaan laut di wilayah Niño 3.4 mencapai +2,83 pada akhir Agustus 2026. Kondisi tersebut menunjukkan terjadinya El Niño dalam kategori sangat kuat. Fenomena ini diperkuat oleh kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang turut memengaruhi pola curah hujan di Indonesia.

Akibatnya, sejumlah wilayah mengalami musim kemarau yang lebih panjang dan kering. Hingga pertengahan September 2026, sekitar 81 persen zona musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Bahkan, terdapat 1.637 titik yang mengalami hari tanpa hujan ekstrem selama lebih dari 60 hari berturut-turut. Situasi ini membuat vegetasi dan lahan menjadi semakin kering sehingga api lebih mudah menyebar. BMKG juga memperkirakan musim hujan 2026/2027 akan datang lebih lambat di sekitar 61 persen wilayah Indonesia.

Meskipun demikian, El Niño tidak dapat dianggap sebagai satu-satunya penyebab kebakaran. Fenomena iklim tersebut memang menciptakan kondisi lingkungan yang lebih kering, tetapi sumber api sebagian besar berkaitan dengan aktivitas manusia. Praktik pembukaan lahan dengan cara membakar, baik yang dilakukan secara sengaja maupun akibat kelalaian, masih menjadi persoalan yang sulit diatasi.

Pakar kebijakan lingkungan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rijal Ramdani, menjelaskan bahwa El Niño berperan memperbesar risiko kebakaran, bukan menjadi sumber utama munculnya api. Pandangan serupa disampaikan Asep Karsidi, dosen Geografi Universitas Indonesia, yang menilai bahwa faktor iklim hanya memperburuk keadaan, sedangkan aktivitas manusia menjadi salah satu pemicu utama karhutla. Dengan demikian, persoalan kebakaran hutan tidak cukup diselesaikan melalui penanganan cuaca ekstrem, tetapi juga harus disertai pengawasan terhadap aktivitas pembukaan dan pengelolaan lahan.

Persoalan semakin rumit ketika kebakaran terjadi di kawasan gambut. Lahan gambut memiliki karakteristik yang berbeda dari lahan biasa karena menyimpan material organik yang mudah terbakar ketika kondisinya mengering. Kerusakan akibat pengeringan lahan, penebangan, serta alih fungsi kawasan membuat gambut semakin rentan terhadap kebakaran. Bahkan, api dapat merambat hingga ke lapisan bawah tanah sehingga sulit diketahui dan membutuhkan waktu lebih lama untuk dipadamkan.

Kajian yang diterbitkan dalam Jurnal Manajemen Hutan Tropika IPB pada 2026 menjelaskan bahwa kebakaran gambut merupakan persoalan berulang di Indonesia. Peristiwa kebakaran besar juga kerap terjadi pada periode El Niño, seperti pada 2006, 2015, dan 2019. Kondisi ini memperlihatkan bahwa kerusakan ekosistem gambut memiliki hubungan erat dengan meningkatnya risiko karhutla. Oleh karena itu, upaya pemadaman tidak cukup hanya dilakukan di permukaan lahan. Pendinginan secara berkelanjutan juga diperlukan untuk mencegah munculnya kembali api dari lapisan bawah tanah. 

Kontributor: Ghefira Lia
Sabtu, 31 Oktober 2026 | 18:09 WIB
Catatan Redaksi

Tulisan ini merupakan opini pengguna. Pandangan yang disampaikan menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan Redaksi Distrik Banten News. Status Kontributor tidak menunjukkan keanggotaan Redaksi maupun kewenangan untuk mewakili Distrik Banten News.

Artikel Selanjutnya

KOWANI di Bawah Yenny Wahid Fokus pada Ekonomi dan Perlindungan Perempuan

Mode AMP — versi ringan & cepat
Versi Lengkap

Terkini

Lapas Bandanaira Sosialisasikan Hak Integrasi

Rabu, 28 Oktober 2026 | 14:16 WIB
↑ Kembali ke atas
22 Ribu Hektare Terbakar, Pakar: El Niño Bukan Penyebab Utama Karhutla 2026

Bagikan artikel ini melalui