Konten Redaksi
KOWANI di Bawah Yenny Wahid Fokus pada Ekonomi dan Perlindungan Perempuan
JAKARTA - Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) menyambut terbitnya Keputusan Menteri Hukum Republik Indonesia Nomor AHU-00001993.AH.01.08.Tahun 2026 tentang Persetujuan Perubahan Perkumpulan Kongres Wanita Indonesia yang ditetapkan pada 29 Oktober 2026.
Keputusan tersebut menjadi landasan bagi organisasi untuk memperkuat tata kelola sekaligus melanjutkan berbagai program pemberdayaan perempuan di Indonesia.
Humas KOWANI, Wahyuni Refi Setya Bekti, menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Hukum RI atas pelayanan administrasi hukum yang diberikan kepada organisasi tersebut.
“Kami menyambut terbitnya keputusan ini sebagai landasan untuk memperkuat tata kelola dan melanjutkan kerja-kerja KOWANI. Kontribusi seluruh organisasi anggota sangat berarti dalam menjalankan agenda bersama bagi perempuan Indonesia,” ujar Refi dalam keterangannya.
Di bawah kepemimpinan Ketua Umum Zannuba Arifah Chafsoh atau Yenny Wahid, KOWANI memprioritaskan sejumlah agenda strategis, mulai dari pemberdayaan ekonomi perempuan, perlindungan perempuan dan anak, hingga penguatan kepemimpinan perempuan muda.
Program tersebut diarahkan untuk memperluas kesempatan perempuan dalam memperoleh penghasilan, mengakses pendidikan, mendapatkan perlindungan, serta berpartisipasi dalam pengambilan keputusan.
Menurut Refi, keberadaan jaringan organisasi anggota KOWANI di berbagai daerah menjadi modal penting untuk memahami persoalan yang dihadapi perempuan secara langsung.
Melalui jaringan tersebut, KOWANI berupaya mendorong pertukaran pengalaman dan memperkuat kerja sama antarorganisasi agar program pemberdayaan yang dijalankan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Kami ingin kerja KOWANI dekat dengan kehidupan perempuan sehari-hari: kesempatan memperoleh penghasilan, rasa aman, akses pendidikan, dan ruang untuk ikut mengambil keputusan. Pengalaman organisasi anggota di lapangan menjadi bekal penting untuk menentukan langkah yang tepat,” katanya.
Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak
Selain pemberdayaan ekonomi, KOWANI juga menempatkan perlindungan perempuan dan anak sebagai salah satu perhatian utama organisasi.
Upaya tersebut akan dilakukan melalui penguatan kolaborasi dengan pemerintah, lembaga masyarakat, dunia usaha, serta berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap persoalan perempuan dan anak.
Refi menegaskan, kerja sama lintas sektor diperlukan agar program yang dirancang tidak hanya menjadi agenda organisasi, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kami terbuka untuk kerja sama yang memberi manfaat nyata. Melalui organisasi anggota, kami berharap dapat ikut menyampaikan kebutuhan perempuan di masyarakat dan mengupayakan langkah bersama untuk menjawabnya,” ujarnya.
KOWANI juga berkomitmen membuka ruang partisipasi bagi generasi muda, khususnya perempuan, untuk terlibat dalam kepemimpinan dan berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.
Menurut Refi, pengalaman para pendahulu dan organisasi anggota merupakan bagian penting dari perjalanan KOWANI yang perlu terus dijaga dan dikembangkan.
“KOWANI tumbuh melalui kerja banyak perempuan dari berbagai latar belakang. Kami ingin menjaga hubungan baik itu, mendengarkan masukan, dan memberi ruang bagi setiap generasi untuk berkontribusi,” lanjutnya.
Lanjutkan Semangat Perjuangan Perempuan Sejak 1928
KOWANI memiliki akar sejarah dari Kongres Perempuan Indonesia pada 1928, yang menjadi salah satu tonggak penting perjuangan perempuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Semangat perjuangan tersebut terus menjadi dasar bagi organisasi untuk memperkuat peran perempuan dalam berbagai bidang kehidupan.
KOWANI juga menyampaikan penghargaan kepada para tokoh perempuan, pendahulu organisasi, serta seluruh organisasi anggota yang telah memberikan kontribusi dalam membangun dan mempertahankan keberlangsungan organisasi.
Refi menilai, tantangan perempuan saat ini membutuhkan pendekatan yang menyesuaikan perkembangan zaman, tanpa meninggalkan nilai perjuangan dan kebersamaan yang telah dibangun sejak awal.
“Warisan para pendahulu adalah keberanian perempuan untuk ikut menentukan masa depan bangsanya. Tanggung jawab kita hari ini adalah melanjutkan pengabdian itu melalui pekerjaan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tutup Refi.
Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:29 WIB