Tidak dapat dipungkiri bahwasannya kita hari ini sedang hidup di era yang serba rumit. Gelombang modernisasi dan pola kecepatan informasi membawa manusia pada ruang keraguan di mana pertanyaan-pertanyaan kritis banyak bertebaran. Kebijakan-kebijakan atasan dipertanyakan, nilai moral mengalami keretakan, bahkan tidak jarang ke kebenaran agama Islam ikut diragukan.
Namun di tengah situasi kacau masyarakat modern tersebut terdapat suatu kenyataan urgent yang kerap luput dari perhatian. Kenyataan bahwa di beberapa sudut Nusantara masih banyak daerah yang bahkan belum sepenuhnya tersentuh oleh tradisi keislaman yang memadai. Atau satu kondisi lain di mana tradisi keislaman sudah ada, namun masih saja dihadapkan pada situasi pelik berupa keterbatasan sumber wawasan dan kurangnya sumber daya manusia yang ahli di bidangnya.
Di beberapa titik atau daerah di luar pulau Jawa, tenaga pendidik islami dan ulama yang kompeten dan kredibel sanad keilmuannya jumlahnya terbilang cukup terbatas. Orang-orang yang bisa diandalkan untuk membimbing umat dan menyebarkan dakwah hanyalah itu itu saja, sehingga penyebaran ilmu agama menjadi kurang maksimal dan berpotensi kewalahan

Untuk mengatasi problem tersebut, pondok pesantren mengambil langkah strategis dengan mengutus guru tugas ke berbagai penjuru Indonesia. Melalui pengiriman para santri pilihan ini, pihak pesantren dan para Kyai berharap ilmu, akhlak, serta pemahaman agama yang telah ditanamkan selama bertahun-tahun di pondok dapat terus mengalir, menjadi perpanjangan dakwah Kyai dan pesantren di tengah masyarakat luas.
Di samping itu, para guru tugas yang diutus untuk berkhidmah pada agama di luar sana tidak berasal dari latar belakang akademik yang sederhana. Mereka sejatinya adalah santri-santri senior pilihan yang tidak hanya memiliki pemahaman luas pada kitab-kitab klasik tetapi juga menyandang gelar akademik yang mumpuni. Paradigma masyarakat luas lah yang menuntut hal tersebut.
Di wilayah-wilayah tertentu, masyarakat kerap menaruh rasa hormat yang tinggi pada simbol-simbol dan gelar dalam pendidikan formal. Ironis, seringkali, kehebatan seseorang dalam menguasai literasi klasik mendadak diragukan kredibilitasnya bahkan dipandang sebelah mata hanya karena ia tidak menyandang gelar formal yang dianggap agung.

Oleh karena itu, pengiriman santri terpilih Ini menjembatani realita pressure tersebut. Dengan membawa kemampuan dan gelar, diharapkan gagasan-gagasan keagamaan yang mereka kemukakan nantinya akan lebih mudah diterima dengan baik, lebih didengar karena berbobot, dan sekaligus memudahkan mereka dalam menjawab persoalan umat yang kian kompleks. Sebab di tempat penugasan nantinya, para guru tugas akan memegang peran sentral. Mereka hadir memegang amanah agama, membawa citra agama Islam sebagai rahmatan lil 'alamin, tak lupa memangku nama baik dirinya sendiri selaku santri dan pesantren. Mereka tidak hadir sekedar menjadi tenaga pengajar,mereka akan menjadi figur dan gambaran tauladan yang mampu menyajikanrujukan-rujukan keagamaan berdasarkan literasi yang mereka miliki, menjadi pembimbing santri, sekaligus penggerak sosial Islam yang ramah dan menyejukkan.
Wal akhir, keberadaan guru tugas pesantren membuktikan bahwa dakwah islam tidak pernah berhenti di satu wilayah saja. Bahwa dakwvah pesantren tidak pernah berhenti di balik pagar-pagar kompleks keilmuannya. Ketika dunia luar dihadapkan pada situasi krisis yang rumit, guru tugas hadir mengisi kekosongan-kekosongan dan keterbatasan yang ada. Menjadi sosok pendidik yang tidak hanya kompeten tetapi juga matang informasi secara spiritual untuk menghadapi problematika umat zaman ini.
Merekalah para Jaisy fisabilillah yang memastikan cahaya ilmu dan wasiat agama Islam rahmatan lil 'alamin senantiasa benderang, menyambung persatuan Ukhuwah, dan menerangi setiap sudut Nusantara. Mengantarkan Indonesia menuju negara yang Baldatun thoyyibatun warobbun Ghofur.Semoga ikhtiar ini dapat terwujud dan mendapat ridho Allah SWT. demi menghadirkan Indonesia yang cerah, damai dan berkah.
Oleh: Wardatul Jannah S.Pd, Praktisi Pendidikan di Pesantren. Mahasiswi Program Magister Manajemen Pendidikan Islam STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau.