Kamis, 5 November 2026

Kebiasaan Kecil sebagai Awal Perubahan Hidup Mahasiswa

DBN.CO.ID Rabu, 4 November 2026 | 17:03 WIB
BAGIKAN:
Kebiasaan Kecil sebagai Awal Perubahan Hidup Mahasiswa
0
Kebiasaan Kecil sebagai Awal Perubahan Hidup Mahasiswa
Oleh: Basmallah Eza Wahab Program Studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang
Banyak mahasiswa ingin hidupnya berubah menjadi lebih baik, mulai dari nilai yang lebih stabil, tubuh yang lebih sehat, sampai hubungan pertemanan yang lebih tenang, tetapi banyak pula yang menunda langkah pertama karena membayangkan perubahan sebagai peristiwa besar. Mereka menunggu semester baru, awal tahun, atau momen yang terasa tepat, lalu menganggap kebiasaan sederhana seperti tidur teratur, menyelesaikan satu tugas kecil hari ini, dan beristirahat sejenak tidak banyak berarti. Pandangan itu perlu diluruskan, sebab perubahan besar biasanya tersusun dari tindakan kecil yang diulang setiap hari. Gagasan ini sejalan dengan buku Hidup Lo Gak Akan Berubah karya Savana Orcaputri, yang mengajak pembaca memulai dari kebiasaan kecil dan menilai hari ini lebih penting daripada rencana yang terlalu jauh. Anggapan bahwa hidup baru berubah setelah ada kejadian besar membuat seseorang pasif, padahal kesempatan untuk bergerak sudah tersedia hari ini. Opini ini membahas tiga hal, yaitu cara kebiasaan terbentuk, sikap terhadap kegagalan, dan pengaruh media sosial terhadap rasa cukup.

Kebiasaan kecil bekerja karena sebuah perilaku membutuhkan pengulangan sebelum berjalan otomatis. Phillippa Lally dan rekan-rekannya (2010) meneliti orang dewasa yang berusaha membangun kebiasaan baru dalam kehidupan sehari-hari, dan hasilnya menunjukkan bahwa perilaku itu menjadi otomatis dalam sekitar 66 hari, dengan rentang waktu antarindividu mulai dari 18 sampai 254 hari (Lally dkk., 2010). Temuan tersebut mengajarkan dua hal. Pertama, perubahan memerlukan waktu berminggu-minggu, sehingga harapan akan hasil instan hanya menghasilkan kekecewaan. Kedua, tindakan ringan lebih mudah diulang daripada tindakan berat, sehingga peluang bertahan menjadi lebih besar. Mahasiswa yang menargetkan belajar lima jam setiap malam dapat berhenti pada minggu kedua, sedangkan mahasiswa yang menetapkan dua puluh menit membaca setelah makan malam lebih mungkin mempertahankannya hingga menjadi rutinitas. Contoh ini sederhana, tetapi menunjukkan bahwa ukuran langkah menentukan keberlanjutannya. Prinsip yang sama berlaku pada kebiasaan lain, misalnya menyiapkan buku sebelum tidur, menulis daftar tugas tiga butir setiap pagi, atau berjalan kaki sepuluh menit setelah kuliah. Kegiatan semacam ini hampir tidak membutuhkan tenaga atau motivasi besar, sehingga pelakunya tidak perlu menunggu suasana hati yang tepat. Dalam beberapa minggu, kegiatan tersebut mulai terasa wajar, dan tenaga yang tadinya habis untuk menimbang-nimbang dapat dipakai mengerjakan hal yang lebih sulit.

Proses membangun kebiasaan hampir selalu diwarnai hari-hari yang gagal, dan cara seseorang menyikapi hari itu menentukan kelanjutannya. Orang yang melewatkan satu hari belajar atau berolahraga sering menyimpulkan bahwa dirinya tidak disiplin, lalu berhenti sepenuhnya. Kristin Neff (2003) menjelaskan konsep welas diri ( self-compassion ) sebagai sikap memperlakukan diri dengan baik ketika gagal, menyadari bahwa kegagalan dialami semua manusia, dan mengamati perasaan sendiri secara seimbang (Neff, 2003). Sikap ini membuat seseorang bersedia mencoba lagi karena kegagalan tidak dibaca sebagai vonis atas dirinya. Buku Savana Orcaputri menyinggung hal serupa lewat ajakan memaafkan diri sendiri dan memberi ruang bagi perasaan sedih sebelum melanjutkan hidup. Memaafkan diri justru membantu seseorang kembali ke rencananya lebih cepat, karena tenaganya tidak habis untuk menyalahkan diri. Standar tetap berlaku, hanya saja seseorang memulai kembali tanpa menghukum dirinya. Contohnya, mahasiswa yang gagal bangun pagi selama tiga hari berturut-turut dapat memilih dua cara menanggapinya. Ia dapat menyebut dirinya malas dan menyerah, atau mencari penyebabnya, misalnya tidur terlalu larut, lalu menggeser jam tidur malam ini. Cara kedua menghasilkan tindakan yang dapat dilakukan, sedangkan cara pertama hanya menghasilkan rasa bersalah.

Kebiasaan kecil juga menghadapi hambatan dari luar, yaitu media sosial yang menampilkan hidup orang lain dalam bentuk paling menarik. Mahasiswa yang melihat teman tampak sibuk, berprestasi, dan bahagia mudah merasa tertinggal, lalu mengira kebiasaan sederhananya tidak sebanding. Rasa takut tertinggal atau FOMO semacam ini membuat seseorang mengganti rencananya sendiri dengan standar orang lain, padahal setiap orang berjalan dengan waktu, kesempatan, dan kebutuhan yang berbeda. Savana Orcaputri menggambarkan rasa lelah itu sebagai akibat dari menilai hidup sendiri memakai timeline orang lain. Seseorang dapat menyikapinya dengan membatasi waktu membuka media sosial, menentukan sendiri ukuran keberhasilan mingguan, dan mencatat kemajuan kecil yang sudah dicapai. Catatan itu memberi bukti bahwa usahanya berjalan, sehingga ia tidak perlu mencari pengakuan dari unggahan orang lain. Hambatan ini terasa kuat pada mahasiswa karena kehidupan kampus mempertemukan banyak orang dengan jalur yang berbeda, seperti organisasi, lomba, magang, dan nilai tinggi. Setiap pencapaian orang lain memunculkan pertanyaan tentang diri sendiri, dan perbandingan itu menyisakan kelelahan karena tidak ada garis akhir yang pasti.

Perubahan hidup mahasiswa dimulai dari keputusan kecil yang dapat dijalankan hari ini, seperti tidur pada jam yang sama, menyelesaikan satu tugas kecil, atau beristirahat sejenak tanpa rasa bersalah. Penelitian tentang pembentukan kebiasaan menunjukkan bahwa pengulangan membutuhkan waktu, sedangkan welas diri menjaga seseorang tetap bergerak ketika ia terjatuh. Media sosial akan terus menampilkan pencapaian orang lain, sehingga ukuran keberhasilan perlu ditentukan sendiri. Mahasiswa sebaiknya berhenti menunggu momen yang sempurna dan mulai dari langkah terkecil yang mampu dijalani. Langkah itu mungkin tampak sepele hari ini, tetapi pengulangan selama berminggu-minggu akan mengubah cara seseorang menjalani hidupnya. Opini ini menegaskan bahwa kebiasaan kecil layak mendapat tempat dalam rencana hidup yang serius.
Kontribusi Tulisan: Kontributor
Penyunting: Herfa Al Jihad

Artikel ini merupakan kiriman pengguna yang diterbitkan melalui DBN.co.id. Isi tulisan menjadi tanggung jawab penulis, dengan tetap mengikuti kebijakan editorial dan ketentuan moderasi redaksi. Publikasi tidak menjadikan pengirim sebagai anggota atau perwakilan resmi Distrik Banten News.

Jalan Rusak di Pandeglang Hambat Aktivitas Warga, Pemeliharaan Jadi Sorotan
Artikel Selanjutnya

Jalan Rusak di Pandeglang Hambat Aktivitas Warga, Pemeliharaan Jadi Sorotan

Berikan Opinimu

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE

Terkini