Kamis, 5 November 2026

Di Balik Harapan Orang Tua, Ada Anak yang Sedang Berjuang

DBN.CO.ID Rabu, 4 November 2026 | 17:31 WIB
BAGIKAN:
Di Balik Harapan Orang Tua, Ada Anak yang Sedang Berjuang
0
Di Balik Harapan Orang Tua, Ada Anak yang Sedang Berjuang
Sampul Buku Ayah, Ibu... Maaf, Terkadang Aku Juga Ingin Menyerah

Di Balik Harapan Orang Tua, Ada Anak yang Sedang Berjuang

Buku Ayah, Ibu... Maaf, Kadang-Kadang Aku Ingin Menyerah karya Nadia Natasya Ifada layak mendapat pengakuan atas keberaniannya dalam menyuarakan perasaan yang sering disembunyikan oleh banyak anak muda. Melalui kisah tokoh utamanya, yang berupaya memenuhi harapan orang tuanya, buku ini menunjukkan bahwa menjadi anak yang “baik” tidak selalu berarti harus kuat, patuh tanpa suara, dan mampu menahan segala macam tekanan. Pendekatan penulis terasa sangat manusiawi karena tidak menggambarkan anak sebagai pihak yang bersalah, juga tidak secara langsung menyalahkan orang tua. Buku ini mengajak pembaca untuk menyadari bahwa konflik keluarga sering kali bermula dari kesalahpahaman, perbedaan cara mengekspresikan cinta, dan kurangnya ruang untuk berbicara secara jujur. Dengan bahasa yang sederhana dan penuh emosi, pesan buku ini mudah menyentuh hati pembaca, terutama remaja yang sedang berjuang menemukan jati diri di tengah tuntutan lingkungan sekitar. Keberanian penulis dalam mengangkat isu kelelahan emosional menjadikan buku ini lebih dari sekadar kisah keluarga, buku ini berfungsi sebagai cermin bagi pembaca yang mungkin sedang mengalami pengalaman serupa. Judul yang dipilih juga menarik perhatian karena terdengar seperti permintaan maaf seorang anak kepada orang tuanya, sekaligus menjadi pengakuan jujur bahwa anak-anak pun memiliki batas dan mengalami kelelahan.

Pertama, buku ini kuat dalam menggambarkan tekanan ekspektasi orang tua sebagai masalah nyata, sekaligus menekankan pentingnya penerimaan diri dan hak setiap orang untuk merasa lelah. Tokoh utama digambarkan sebagai sosok yang ingin membuat keluarganya bangga, namun upaya-upaya tersebut justru membuatnya kelelahan, ragu, dan merasa tidak cukup baik. Penggambaran ini selaras dengan pengalaman banyak remaja yang merasa harus memenuhi standar akademis, karier, dan perilaku yang diharapkan keluarga dari mereka. Buku ini berhasil mengingatkan kita bahwa dorongan dari orang tua seharusnya menjadi sumber kekuatan, bukan beban yang membuat anak-anak kehilangan rasa percaya diri. Pada saat yang sama, pesan bahwa “Tidak apa-apa jika kamu tidak sempurna” berfungsi sebagai nilai penting yang memperkuat gagasan bahwa seseorang tidak harus sempurna untuk layak dicintai. Tokoh utama didorong untuk menyadari bahwa beristirahat, menangis, atau mengakui kelelahan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian dari proses menjaga kesehatan mental. Hal ini sejalan dengan temuan dalam “Hubungan Antara Dukungan Keluarga dan Kesehatan Mental Remaja Awal di SMA Widyagama Malang” oleh Anggyta Fevtikasari, Kurnia Laksana, dan Nining Loura Sari (2026) , yang menunjukkan adanya hubungan antara dukungan keluarga dan kesehatan mental remaja, semakin besar dukungan yang diberikan keluarga, semakin baik pula kesehatan mental remaja tersebut. Namun, penggambaran konflik tersebut dapat dieksplorasi lebih mendalam, karena sudut pandang orang tua belum dijelaskan secara memadai. Jika alasan di balik sikap orang tua dijabarkan lebih lanjut, pembaca akan lebih memahami bahwa tuntutan mereka terkadang berasal dari kekhawatiran, pengalaman hidup, atau keinginan untuk memberikan masa depan yang lebih baik. Akibatnya, konflik dalam cerita akan terasa lebih seimbang, dan penyelesaiannya pun lebih meyakinkan. Meskipun demikian, pesan utama buku ini tetap kuat, karena mendorong pembaca untuk merenungkan fakta bahwa kesuksesan seseorang tidak seharusnya diukur semata-mata berdasarkan pencapaian, tetapi juga berdasarkan kesehatan mental dan kebahagiaan secara keseluruhan.

Kedua, buku ini menekankan bahwa komunikasi dan dukungan emosional merupakan kunci hubungan keluarga yang sehat. Konflik antara anak dan orang tua dalam cerita ini tidak timbul karena kurangnya kasih sayang, melainkan karena kasih sayang tersebut belum diwujudkan dalam bentuk komunikasi yang terbuka. Orang tua mungkin memandang tuntutan mereka sebagai bentuk perhatian, sementara anak-anak menafsirkannya sebagai tekanan yang menyakitkan. Perbedaan makna inilah yang membuat buku ini terasa begitu dekat dengan kenyataan. Temuan dalam “Hubungan Antara Pola Komunikasi Orang Tua dan Perilaku Negatif pada Remaja” oleh Zulia Rahmadani, Sri Wahyuni, dan Nur Aulia (2026) menunjukkan bahwa komunikasi orang tua yang lebih baik cenderung dikaitkan dengan tingkat perilaku negatif yang lebih rendah pada remaja. Oleh karena itu, pesan dari buku ini tidak hanya relevan bagi anak-anak, tetapi juga bagi orang tua. Orang tua perlu mendengarkan tanpa langsung menghakimi, sementara anak-anak perlu didorong untuk mengungkapkan perasaannya tanpa takut dianggap tidak tahu berterima kasih. Hubungan keluarga yang sehat tidak dibangun atas dasar kesempurnaan, melainkan atas dasar kesediaan kedua belah pihak untuk saling memahami. Ketika seorang anak merasa didengarkan, ia akan lebih mudah terbuka mengenai masalah yang dihadapinya. Sebaliknya, jika anak-anak terus-menerus dipaksa untuk diam dan diharapkan selalu kuat, emosi yang terpendam dapat berubah menjadi kelelahan emosional yang lebih dalam. Dalam konteks ini, buku ini berhasil menawarkan refleksi yang sederhana namun mendalam mengenai pentingnya menciptakan ruang aman di dalam keluarga.

Secara keseluruhan, buku Ayah, Ibu... Maaf, Terkadang Aku Juga Ingin Menyerah adalah bacaan yang menyentuh dan penuh wawasan karena berhasil mengubah perasaan yang sering dianggap tabu menjadi sesuatu yang dapat dibicarakan secara terbuka. Buku ini tidak menjanjikan solusi instan atas tekanan hidup, tetapi menawarkan sudut pandang yang lebih lembut terhadap diri sendiri dan keluarga. Kekurangan dalam pengembangan alur cerita dan penggambaran karakter pendukung tidak mengurangi nilai inti buku ini, keberaniannya dalam mengangkat isu-isu kelelahan emosional, ekspektasi orang tua, dan penerimaan diri. Buku ini sangat direkomendasikan bagi remaja, mahasiswa, dan orang tua yang ingin memahami perasaan anak-anak mereka secara lebih mendalam. Pada akhirnya, buku ini mengingatkan kita bahwa setiap orang berhak merasa lelah, meragukan diri sendiri, dan meminta ruang untuk pulih. Yang terpenting adalah jangan menyerah sepenuhnya dan berani mencari dukungan dari orang-orang yang bersedia mendengarkan dengan tulus.

Tentang Penulis

lila-1.webp

Khalila Putri Ashihab mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang yang memiliki ketertarikan pada bidang pengembangan diri

Kontribusi Tulisan: Kontributor
Penyunting: Herfa Al Jihad

Artikel ini merupakan kiriman pengguna yang diterbitkan melalui DBN.co.id. Isi tulisan menjadi tanggung jawab penulis, dengan tetap mengikuti kebijakan editorial dan ketentuan moderasi redaksi. Publikasi tidak menjadikan pengirim sebagai anggota atau perwakilan resmi Distrik Banten News.

Jalan Rusak di Pandeglang Hambat Aktivitas Warga, Pemeliharaan Jadi Sorotan
Artikel Selanjutnya

Jalan Rusak di Pandeglang Hambat Aktivitas Warga, Pemeliharaan Jadi Sorotan

Berikan Opinimu

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE

Terkini